Gunung argo.. i..ya
gunung argo.. nama lengkapnya gunung argopuro.. tapi nanti dulu sob gunung argo
yang aku maksud ini adalah gunung argopuro yg berada di kabupaten rembang
tempat kelahiranku. Mungkin ada yg bertanya-tanya, apa iya di rembang ada
gunung argo?? jawabnya "iya". Memang gunung ini tidak terlalu tinggi,
cuma 806mdpl tapi sudah bisa disebut gunung koq soalnya menurut Encyclopædia Britannica agar bisa di definisikan sebagai gunung
membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610m).
Gunung yag sudah lama
ingin aku daki bahkan sejak masih kecil karena gunung ini terlihat gagah dari
desaku, apalagi dengan berbagai cerita mistis tentang gunung ini baik itu dewi
rengganis maupun penunggu lainnya bukannya takut malah semakin membuat penasaran
karena membuatku berangan-angan tentang petualangan yang seru dan penuh
tantangan. Berkali-kali bikin rencana untuk mendaki tapi gagal akhirnya
kesempatan itu datang yaitu tanggal 8 april yang kebetulan ada waktu libur yang
sama antara aku dan temanku Ridho yaitu tangal 9 april pas pemilu. Maklum aku
kerja di outbond yang kerjanya waktu orang liburan dan ridho berkerja di bank
yg liburnya pas waktu berkerja pas kan? hehe.
Waktu sudah dapet akupun
update di facebook tentang rencanaku ini, tak disangka ada teman lain yang juga
ingin ikut bergabung naik gunung argo. Teman entaah siapa dan aku juga
belum pernah bertemu langsung, namun disinilah uniknya para petualang, tanpa
memperdulikan siapa dan darimana, asal mempunyai tujuan yang sama yaitu mendaki
gunung jalan bersama bukan masalah. mendaki gunung dengan orang tak dikenal
apakah tidak berbahaya? nanti kalo ternyata orang yang gabung orang jahat
gimana trus nanti kalo di culik dirampok ?? santea aja sob kalo kamu punya
kepikiran kayak itu sebaiknya kurangi nonton film horor hehe. Bukannya aku gak
takut sama sekali tapi melihat profilnya ternyata dia juga sering naik gunung
aku yakin dia orang baik karena menurutku lebih banyak orang baik
daripada orang jahat di dunia ini kalaupun ketemu orang jahat berarti lagi apes
aja hehe :)
Kekhawatiran terbesarku
bukanlah baik atau jahat nih orang tapi lebih kepada karakternya nanti pas
mendaki gunung banyangkan 4 orang mendaki bersama aku sih sudah kenal akrab ridho
tapi Fandi membawa temannya juga temannya Riyan, belum pernah bertemu tiba tiba
mendaki bersama, yang aku pikirkan bagaimana nanti kalu pas naik ternyata
orangnya gak asik aku bisa ewuh sendiri sama ridho karena ini pengalaman
pertama kalinya bagiku dan bahkan bagi kita ber empat mendaki argo. Tapi gak
papa dan justru disitulah tantangan dan serunya mendaki gunung, apakah kita
bisa mengontrol keadaan atau keadaan yang mengontrol kita, asek..
Hari yang ditentukan
tiba kita semua sepakat untuk berkumpul di rumahku.
Waktu berangkat akhirnya molor karena harus
menunggu ridho rampung kerja terlebih daluhu dan kita baru bisa sampai start pendakian pukul setengah sembilan malam. Agak serem juga sih kita ber empat
pertama kali mendaki argo malam pula, namun setelah tanya bapak yang ada di pos
pendakian desa ngroto bahwa jalurnya mudah katanya sih “mas nanti kalo naik
ikuti aja jalan setapak, lurus terus kalo ada perempatan nanti lurus terus aja” waktu tempuh sekitar 3 jam aku yakin aman
dengan keyakinan asal naik terus nanti pasti sampai *ya iyalah namanya naik
gunung pasti naik*
Sambil
berjalan kita saling bercerita pengalaman masing masing dan dari sinilah aku
tau ternyata fandi orang yang asik mental mendaki gunungnya juga oke karena dia
sudah sering mendaki gunung. Asiknya fandi termasuk pendaki rapi pake baju
lapangan rambut sisir rapi, dan gak ketinggalan pake minyak wangi trus pake
celana panjang yang dipotong jadi celana pendek jadi style andalan. Semakin
tinggi kita mendaki kitapun menjadi semakin akrab. Dan ternyata kekhawatiranku gak terbukti
karena kita ber 4 sama sama bisa menjaga emosi satu sama lain dan kita bisa
menjadi akrab dan lepas dalam bercanda.
Sampai
di puncak argo sekitar pukul 12 kurang seperempat gak nyangka juga sih bisa
secepat itu karena saat jalan kita jarang berhenti karena sepanjang jalan basah
semua habis hujan jadinya daripada basah mending jalan terus. Tenda kita
dirikan, masak air, bikin kopi dan mengeluarkan bekal makanan ringan. Malam agak
berkabut namun suasana semakin akrab hingga satu persatu dari kita masuk tenda
untuk tidur sebentar untuk menyambut mentari pagi, momen yang paling
ditunggu-tunggu saat di puncak gunung.
“Sudah
Pukul empat silahkan segera bangun” suara alarmku dari hape nokia berbunyi. Agak
males malesan akhirnya aku bangun, sayang saat itu cuacanya agak kabut jadinya
suasana sunrisenya kurang sempurna. Karena sudah waktunya akupun solat subuh. Solat
subuh di puncak gunung bener-bener menjadi momen yang asik karena suasananya
bisa membuat lebih khusuk.
Baru
sekitar pukul 5 pagi kabut mulai hilang dan binggo!!! inilah puncak tertinggi di Rembang kita
bisa melihat laut menghampar disebalah utara dan hijaunya daratan di sisi selatan
serta samar-samar gunung lawu, dibagian barat mungkin ungaran atau merbabu
merapi yg samar-samar terlihat indah.
Menikmati
alam enggan membuat kita cepat cepat-cepat turun, tapi Fandi harus segera tutun
karena nanti sore harus berangkat ke jakarta untuk menghadiri interview. Pukul 8
kita turun dan sekitar setengah 10 kita sudah sampai di basecamp pendakian di desa
ngroto.
Selepas dari desa ngroto kita langsung pulang ke rumah masing masih karena fandi sudah buru buru untuk berangkat ke jakarta. Awalnya kita tidak kenal dan Karena mendaki argolah kita ber 4 bisa berkenalan dan menjadi sahabat.
Selepas dari desa ngroto kita langsung pulang ke rumah masing masih karena fandi sudah buru buru untuk berangkat ke jakarta. Awalnya kita tidak kenal dan Karena mendaki argolah kita ber 4 bisa berkenalan dan menjadi sahabat.

